Kamis, 05 April 2012

Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja Merupakan salah satu elemen yang cukup penting dalam organisasi. Hal ini disebabkan kepuasan kerja dapat mempengaruhi perilaku seperti malas, rajin, produktif, dan lain-lain,  atau mempunyai hubungan dengan beberapa jenis perilaku yang sangat penting dalam organisasi”. Marihot T. E Hariandja (2006:290).
Robert Kreitner dan angelo Kinicki (2003:271) mengemukakan bahwa : “Kepuasan kerja adalah suatu efektivitas atau respon emosional terhadap berbagai aspek pekerjaan.” Definisi ini berarti bahwa kepuasan bukanlah suatu konsep tunggal. Sebaliknya, seseorang dapat relatif puas dengan sutu aspek dari pekerjaannya dan tidak puas dengan salah satu atau lebih aspek lainnya.
Berdasarkan pendapat di atas, A. A Anwar Prabu Mangkunegara (2007:117) mendefinisikan lebih rinci bahwa kepuasan kerja adalah :
“Perasaan yang menyokong atau tidak menyokong diri karyawan yang berhubungan dengan pekerjaannnya maupun dengan kondisi dirinya. Perasaan yang behubungan dengan pekerjaan yang melibatkan aspek-aspek seperti: gaji/upah yang diterima, kesempatan pengembangan karier, hubungan dengan karyawan lainnya, penempatan kerja, jenis pekerjaan, struktur organisasi perusahaan, mutu pengawasan. Sedangkan perasaan yang berhubungan dengan dirinya, antara lain umur, kondisi kesehatan, kemampuan dan pendidikan”.

Handoko dan As’ad dalam Husein Umar (2000:36) menjelaskan bahwa :
“Kepuasan kerja merupakan penilaian atau cerminan dari perasaan pekerja terhadap pekerjaannya. Hal ini tampak dalam sikap positif pekerja terhadap pekerjaannya dan segala sesuatu yang dihadapi lingkungan kerjanya. Dampak kepuasan kerja perlu dipantau dengan mengaitkan pada output yang dihasilkannya”.

Malayu Hasibuan (2007:202) menyatakan bahwa :

“Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Kepuasan kerja dalam pekerjaan adalah kepuasan kerja yang dinikmati dalam pekerjaan memperoleh pujian hasil kerja, penempatan, perlakuan, peralatan dan suasana lingkungan kerja yang baik”.

Sedangkan Keith Davis dan John W Newstrom (2002:208) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai berikut:
"Job satisfaction is a set of favorable or unfavorable feelings and emotions with which employees view their work. Job satisfactions in an affective attitude a feeling of relative like or dislike toward something. Important aspect of job satisfaction include pay, one's supervisor, the nature of task performed an employee's coworker of team, and the immediate working conditions".

Robert N Lussier (2005:81) berpendapat bahwa "A person's job satisfaction is a set of attitudes toward work.  Job satisfaction is what most employees want from their jobs, even more than they want job security or higher pay".


Variabel-Variabel Kepuasan Kerja
Menurut A.A Anwar Prabu Mangkunegara (2007:117-119), kepuasan kerja berhubungan dengan variabel-variabel seperti turnover, tingkat absensi, umur, tingkat pekerjaan, dan ukuran organisasi perusahaan.
  1. Turnover
Kepuasan kerja lebih tinggi dihubungkan dengan turnover karyawan yang rendah. Sedangkan karyawan-karyawan yang kurang puas biasanya turnovernya lebih tinggi.
  1. Tingkat ketidakhadiran (absen) kerja
Karyawan-karyawan yang kurang puas cenderung tingkat ketidakhadiran (absen) tinggi. Mereka sering tidak hadir kerja dengan alasan yang tidak logis dan subjektif.
  1. Umur
Ada kecenderungan karyawan yang lebih tua merasa puas daripada karyawan yang berumur relatif muda. Hal ini diasumsikan bahwa karyawan yang lebih tua lebih berpengalaman menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaannya. Sedangkan karyawan usia muda biasanya mempunyai harapan yang ideal tentang dunia kerjanya, sehingga apabila antara harapannya dengan realita kerja terdapat kesenjangan atau ketidakseimbangan dapat menyebabkan mereka menjadi tidak puas.
  1. Tingkat Pekerjaan
Karyawan-karyawan yang menduduki tingkat pekerjaan yang lebih tinggi cenderung lebih puas daripada karyawan yang menduduki tingkat pekerjaan yang lebih rendah. Karyawan-karyawan yang tingkat pekerjaannya lebih tinggi menunjukkan kemampuan kerja yang baik dan aktif dalam mengemukakan ide-ide serta kreatif dalam bekerja.
  1. Ukuran Organisasi Perusahaan
Ukuran organisasi perusahaan dapat mempengaruhi kepuasan karyawan. Hal ini karena besar kecil suatu perusahaan berhubungan pula dengan koordinasi, komunikasi, dan partisipasi karyawan.

Veithzal Rivai (2004:479) berpendapat bahwa variabel kepuasan kerja yang biasa digunakan untuk mengukur kepuasan kerja seseorang adalah :
1.      Isi pekerjaan
penampilan tugas yang diberikan serta sebagai kontrol terhadap pekerjaan tersebut.
2.      Supervisi
Pengawasan yang berkala dan selalu dilakukan oleh atasan agar pekerjaan yang diberikan terlaksana dengan baik.
3.      Organisasi dan Manajemen
Organsisasi dengan manajemen yang baik akan mendukung seorang pegawai agar dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan dan pada akhirnya akan merasakan kepuasan dalam bekerja.
4.      Kesempatan pengembangan karir
Seorang pegawai akan merasa puas dalam bekerja apabila perusahaan memberikan kesempatan untuk mengembangkan karirnya demi kemajuan perusahaan.
5.      Rekan kerja
Kepuasan kerja akan didapat melalui rekan kerja yang dapat bekerja sama dengan baik agar pekerjaan yang berikan dapat terlaksana dengan baik.
6.      Kondisi pekerjaan
Kepuasan kerja bisa diperoleh seseorang dengan dukungan kondisi lingkungan pekerjaan yang baik, rekan kerja serta fasilitas pendukung kerja yang memadai.


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja seorang pegawai dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan beberapa aspek diantaranya dijelaskan oleh Marihot T. E Hariandja (2006:291) :
  1. Gaji, yaitu jumlah bayaran yang diterima seseorang sebagai akibat dari pelaksanaan kerja apakah sesuai dengan kebutuhan dan dirasakan adil.
  2. Pekerjaan itu sendiri, yaitu pekerjaan yang dilakukan seseorang apakah memilki elemen yang memuaskan.
  3. Rekan kerja, yaitu teman-teman kepada siapa seseorang senantiasa berinteraksi dalam pelaksanaan pekerjaan. Seseorang dapat merasakan rekan kerjanya sangat menyenangkan atau tidak menyenangkan.
  4. Atasan, yaitu seseorang yang senantiasa memberi perintah atau petunjuk dalam pelaksanaan pekerjaan. Cara-cara atasan dapat tidak menyenangkan bagi seseorang/menyenangkan dan hal ini mempengaruhi kepuasan kerja.
  5. Promosi, kemungkinan seseorang dapat merasakan adanya kemungkinan yang besar untuk naik jabatan/tidak, proses kenaikkan jabatan kurang terbuka/terbuka. Ini dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja seseorang.
  6. Lingkungan kerja, yaitu lingkungan fisik dan psikologi.

Kuswadi (2004:23-25) menambahkan, “Kepuasan kerja karyawan dipengaruhi banyak faktor, terutama yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan karyawan sebagai manusia (Teori Maslow/Maslow’s hierarchy of needs)”, berdasarkan hasil penelitian selama ini, dapat dikategorikan menjadi banyak kelompok atau klasifikasi antara lain:
1.      Gaji/pendapatan;
2.      Variasi pekerjaan;
3.      Keamanan kerja;
4.      Merasa dihargai;
5.      Merasa dipercaya;
6.      Pengakuan prestasi kerja (terima kasih);
7.      Fleksibilitas atau keluwesan jam kerja;
8.      Hak libur;
9.      Kesempatan promosi;
10.  Penghargaan dari manajemen;
11.  Pelatihan;
12.  Skema pensiun;
13.  Kerja sama dengan semua karyawan;
14.  Komunikasi dengan pimpinan puncak;
15.  Fleksibilitas dari atasan;
16.  Jumlah jam kerja;
17.  Bantuan perusahaan atau pembayaran pada waktu sakit;
18.  Tantangan kerja;
19.  Mendapat kesempatan yang sama;
20.  Komunikasi antar bagian dalam perusahaan;
21.  Perusahaan mengetahui apa yang diharapkan dari karyawan;
22.  Lokasi kantor dari rumah;
23.  Penilaian;
24.  Kondisi fisik tempat bekerja;
25.  Dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan;
26.  Reputasi atasan;
27.  Keamanan pribadi;
28.  Kemudahan dalam mencapai fasilitas kerja;
29.  Respek kepada manajemen;
30.  Parkir kendaraan;
31.  Etika atasan;
32.  Kebijakan dilarang merokok;
33.  Kamar P3K

Pengukuran Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja adalah sikap bagaimana seseorang merasakan pekerjaan dan aspek-aspeknya. Ada beberapa alasan mengapa perusahaan harus benar-benar memperhatikan kepuasan kerja, menurut Veithzal Rivai (2004:480) yang dapat dikategorikan sesuai dengan fokus pegawai atau perusahaan, yaitu :
1)   Manusia berhak diperlakukan dengan adil dan hormat, pandangan ini merujuk terhadap perspektif kemanusiaan. Kepuasan kerja merupakan perluasan refleksi perlakuan yang baik. Penting juga dirasakan untuk memperhatikan indikator emosional atau kesehatan psikologis.
2)   Kepuasan kerja dapat menciptakan perilaku yang mempengaruhi fungsi-fungsi perusahaan. Perbedaan kepuasan kerja antara unit-unit organisasi dapat mendiagnosis potensi persoalan.

            Pengukuran kepuasan kerja digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja pegawai. Dalam pengukurannya dapat digunakan berbagai cara. Menurut  A. A Anwar Prabu Mangunegara (2007:126), “Pengukuran kepuasan kerja dapat dilakukan dengan skala indeks deskripsi jabatan :
            “Untuk mengukur kepuasan kerja, dapat digunakan pengukuran kepuasan kerja dengan skala indeks deskripsi jabatan. Dalam penggunaan ukuran ini, karyawan diberikan pertanyaan mengenai pekerjaan maupun jabatan yang dirasakan sangat baik dan sangat buruk. Dalam skala ini diukur sikap dari lima area, yaitu :
1.      Pekerjaan itu sendiri
2.      Pengawasan
3.      Promosi jabatan
4.      co-worker/rekan kerja” 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar