Kamis, 05 April 2012

Produktivitas Kerja

Malayu S.P. Hasibuan (2003:41), mengemukakan bahwa: “Produktivitas adalah perbandingan antara output (hasil) dengan input (masukan). Jika produktivitas naik hal ini hanya dimungkinkan oleh adanya peningkatan efisiensi (waktu, bahan, tenaga) dan system kerja, teknis produksi dan adanya peningkatan keterampilan dari tenaga kerjanya”.
  Paul Mali seperti yang dikutip oleh Sedarmayanti (2001:57) mengemukakan bahwa: “Produktivitas adalah bagaimana menghasilkan atau meningkatkan hasil  barang dan jasa setinggi mungkin dengan memanfaatkan sumber daya secara efisien. Oleh karena itu produktivitas sering diartikan sebagai rasio antara keluaran dan masukan dalam satuan waktu tertentu”.


Produktivitas menurut 
National Productivity Board Singapore adalah sikap mental yang mempunyai semangat untuk melakukan peningkatan perbaikan. (Sedarmayanti 2001:56)
Sejalan dengan pendapat diatas Muchdarsyah Sinungan (2005:12), mendefinisikan produktivitas sebagai: “Perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dibagi totalitas masukan selama periode tertentu”.
Laeham dan Wexley, seperti yang dikutip oleh sedarmayanti (2001:65) menyatakan bahwa produktivitas kerja bukan semata-mata ditujukan untuk mendapatkan hasil kerja sebanyak-banyaknya, melainkan kualitas untuk kerja juga penting diperhatikan.

Dimensi Produktivitas Kerja
            Umar Husein (2004:9), mengemukakan dua dimensi produktivitas sebagai berikut:
“Produktivitas mengimplikasikan dua dimensi, yakni efektivitas dan efisiensi. Pengertian efektivitas itu sendiri adalah “doing the right thing”. Melaksanakan sesuatu yang benar dalam memenuhi kebutuhan organisasi berkaitan dengan pencapaian unjuk kerja yang maksimal, dalam arti pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Sedangkan dimensi kedua yaitu efisiensi adalah: “doing things right”. Melakukan yang benar dengan proses yang benar berkaitan dengan upaya membandingkan masukan dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan. Untuk itu, produktivitas biasanya dicapai melalui efektivitas pencapaian tujuan dan efisiensi penggunaan sumber daya”.
           
            Efisiensi adalah ukuran yang menunjukan bagaimana baiknya sumber-sumber daya yang digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan output. Efisiensi merupakan karakteristik proses yang mengukur performansi aktual dari sumber daya relatif terhadap standar yang ditetapkan.
            Perbedaan produktivitas dengan efektivitas dan efisiensi adalah bahwa produktivitas merupakan ukuran tingkat efisiensi dan efektivitas dari setiap sumebr yang digunakan selama produksi berlangsung dengan membandingkan antara jumlah yang dihasilkan  (output) dengan masukan dari setiap sumber yang dipergunakan atau seluruh sumber (input).
            Tinggi rendahnya efisiensi ditentukan oleh nilai input dan output, sedangkan tinggi rendahnya nilai efektivitas ditentukan oleh pencapaian target. Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan input yang direncanakan dengan input yang sebenarnya. Apabila input yang sebenarnya digunakan semakin besar penghematannya, maka tingkat efisiensi semakin tinggi. Tetapi semakin kecil input yang dapat dihemat akan semakin rendah tingkat efisiensinya. Efektivitas merupakan ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat dicapai.
            Pada dasarnya peningkatan produktivitas menggunakan pendekatan system yang berfokus pada perbaikan terus-menerus terhadap kualitas, efektivitas pencapaian tujuan, dan efisiensi penggunaan sumber-sumber daya dari perusahaan.
            Produktivitas dipandang dari dua sisi sekaligus, yaitu sisi input dan sisi output. Produktivitas tidak sama dengan produksi, tetapi produksi, performasi kualitas, hasil-hasil. Merupakan komponen dari usaha produktivitas. Dengan demikian, produktivitas merupakan suatu kombinasi dari efektivitas dan efisiensi.

Jenis Produktivitas
            Menurut Sri Hariayani (2002:97) bahwa produktivitas dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu produktivitas total dan produktivitas satu faktor. Berikut adalah penjelasan dari jenis produktivitas menurut pendapat Sri Hariyani, yang telah dirangkum penulis.
1.         Produktivitas Total
Produktivitas dapat diukur dari berbagai faktor penyusunnya seperti: tanah, modal, teknologi, tenaga kerja, dan bahan baku, yang disebut dengan produktivitas dari berbagi faktor. Produktivitas ini sering disebut dengan produktivitas total.
2.         Produktivitas Satu Faktor
            Selain menghitung produktivitas dari berbagai factor, produktivitas juga dapat diukur untuk masing-masing factor, yang disebut produktivitas dari satu factor (Single factor productivity). Dan yang sering dihitung adalah produktivitas tenaga kerja atau dalam konteks manajemen lebih dikenal sebagai kinerja (performance). Seorang karyawan atau sekelompok karyawan dinilai produktif atau tidaknya dari kinerja. kinerja karyawan dapat diukur dengan menggunakan konsep penilaian prestasi kerja (performance appraisal). Dimensi-dimensi yang digunakan dalam menilai kinerja karyawan adalah ketaatan, kerajinan, kedisiplinan, keaktifan dalam memberikan laporan, kejujuran, loyalitas, inisiatif, keterampilan, kejelasan dalam memberi/menerima instruksi, pemeliharaan alat kerja, kemampuan mengatasi masalah, dan lain-lain.
            Dengan memperhatikan dimensi-dimensi diatas, karyawan berharap dapat meningkatkan prestasi kerjanya, menurut Scheineier Craig yang dikutip oleh Sri Haryani (2002:99) bahwa prestasi kerja merupakan pemahaman terhadap tiga hal, yaitu: perilaku, prestasi dalam melakukan pekerjaan, dan efektivitas yang dicapai dalam melakukan pekerjaan tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Produktivitas Kerja
            Tinggi rendahnya produktivitas sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor penting. Faktor-faktor tersebut bisa berasal dari dalam sendiri maupun dari luar. Dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan produktivitas karyawan, perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor yang memilki potensi untuk meningkatkan produktivitas kerja.
            Menurut sedarmayanti (2001;72) yang dirangkum penulis, terdapat dua belas faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja:
1.         Sikap mental meliputi:
a.         Motivasi Kerja, Pada umumnya orang yang mempunyai motivasi kerja yang tinggi akan bekerja dengan rajin, giat, sehingga dengan begitu akan dapat mencapai satu prestasi kerja yang tinggi.
b.         Disiplin kerja, Orang yang mempunyai disiplin kerja yang tinggi akan bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya.  Hal ini akan mendorong gairah kerja, semangat kerja dan akan mendukung terwujudnya tujuan perusahaan. Sebab kedisiplinan adalah kunci keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya dan produktivitas kerja pun akan meningkat.
c.         Etika kerja, Pada umumnya orang mempunyai etika yang baik akan nampak dalam penampilan kerja sehari-hari berupa kerja sama, kehadiran, antusias, inisiatif, tanggung jawab terhadap pekerjaan, dan kreativitas. Wujud tersebut akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pencapaian produktivitas kerja karyawan yang optimal dan mampu memenuhi harapan atau bantuan pencapaian tujuan perusahaan.
2.         Pendidikan
            Pada umumnya orang yang mempunyai pendidikan lebih tinggi akan memiliki wawasan yang lebih luas terutama penghayatan akan pentingnya produktivitas.
3.         Keterampilan
            Pada aspek tertentu apabila pegawai semakin terampil, maka akan lebih mampu bekerja serta menggunakan fasilitas kerja dengan baik.
4.         Manajemen
            Berkaitan dengan sistem yang diterapkan oleh pimpinan untuk mengelola atau pun memimpin serta mengendalikan bawahannya. Apabila manajemennya tepat, maka akan menimbulkan semangat yang lebih tinggi sehingga dapat mendorong pegawai untuk melakukan tindakan produktif.
5.         Hubungan Industrial Pancasila
Dengan penerapan hubungan industrial pancasila maka akan:
a.      Menciptakan ketenangan kerja dan memberikan motivasi kerja.
b.                Menciptakan hubungan kerja yang serasi dan dinamis sehingga menumbuhkan partisipasi aktif dalam usaha meningkatkan produktivitas.
c.                 Menciptakan harkat dan martabat pegawai sehingga mendorong diwujudkannya jiwa yang berdedikasi dalam upaya meningkatkan produktivitas.
6.        Tingkat Penghasilan
           Apabila tingkat penghasilan pegawai tinggi, maka akan menimbulkan konsentrasi dan semangat kerja sehingga pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja.
7.        Gizi dan Kesehatan
           Apabila pegawai dapat dipenuhi kebutuhan gizinya dan berbadan sehat, maka akan lebih kuat bekerja, apalagi bila mempunyai semangat yang tinggi maka akan dapat meningkatkan produktivitas kerjanya.
8.        Jaminan Sosial
           Jaminan sosial yang diberikan oleh suatu organisasi kepada pegawainya dimaksudkan untuk meningkatkan pengabdian dan semangat kerja. Apabila jaminan sosial pegawai mencukupi, maka akan dapat menimbulkan produktivitas kerja.
9.        Lingkungan dan Iklim Kerja
           Lingkungan dan iklim kerja merupakan hal baik dalam mendorong pegawai agar senang dalam bekerja dan meningkatkan rasa tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik sehingga terarah dalam peningkatan produktivitas kerja.
10.      Sarana Produksi
           Mutu sarana produksi berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas kerja karena dengan mutu sarana produksi yang lebih baik, seseorang dapat bekerja dengan semangat.
11.      Teknologi
           Apabila teknologi yang dipakai lebih tepat, maka akan memungkinkan jumlah produksi yang dihasilkan lebih banyak dan bermutu serta memperkecil terjadinya pemborosan bahan sisa.
12.      Kesempatan Berprestasi
           Apabila terbuka kesempatan dalam berprstasi, akan menimbulakan dorongan psikologis untuk meningkatkan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan produktivitas.
            Sedangkan menurut pendapat Sri Haryani (2002:104), yang dirangkum penulis bahwa variabel yang mempengaruhi produktivitas dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu:
1.         Variabel yang berasal dari karyawan
a.         Bersifat Fisikal, meliputi:
-      Gizi, berguna untuk mendukung aktivitas fisik mapupun mental, sehingga orang tidak akan cepat lelah dalam bekerja dan mampu berpikir secara optimal.
-      Kesehatan, merupakan faktor penting dalam meningkatkan produktivitas karyawan, yang mencakup kesehatan fisik dan mental, karena secara umum orang yang sehat akan mampu bekerja dengan lebih baik dibanding orang yang tidak sehat.
b.         Bersifat Psikologikal, meliputi:
-      Motivasi. Masing-masing individu mendorong dirinya sendiri untuk meningkatkan produktivitas kerjanya, orang yang bekerja dengan motovasi yang lebih tinggi, akan menghasilkan produktivitas yang tinggi pula.
-      Sikap. Sikap seseorang akan tercermin dari prestasi kerjanya, sikap yang positif terhadap pekerjaan ditunjukan dengan kesediaan yang lebih besar untuk berusaha agar apa yang dikerjakan berhasil dan untuk bertanggung jawab terhadap apa yang ditugaskan kepadanya. Sementara sikap yang negatif ditunjukkan dengan adanya sikap yang pasif, dimana hanya mengerjakan seperti apa yang diperintahkan, menyukai pengarahan, dan apabila memungkinkan akan menghindar dari tanggung jawab.
c.         Keterampilan. Meliputi:
-      Bakat. Orang yang bekerja sesuai dengan bakatnya akan mempunyai produktivitas yang relatif lebih tinggi dibanding mereka yang kurang berbakat.
-      Pendidikan. Seseorang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memungkinkan dirinya untuk bekerja lebih produktif dibanding yang pendidikannya lebih rendah. Karyawan yang memiliki pendidikan lebih tinggi akan mempunyai wawasan yang lebih luas, kematangan dalam berfikir, dan bekerja dengan lebih baik.
-      Latihan. Latihan dimaksudkan untuk membentuk dan meningkatkan keterampilan dalam bekerja.
2.         Variabel yang berasal dari perusahaan.
a.          Lingkungan Kerja. Dibedakan menjadi dua, yaitu lingkungan fisik dan non fisik. Lingkungan fisik terdiri dari pencahayaan, sirkulasi udara, tersediannya fasilitas kamar dan WC, tersedianya fasilitas olah raga, serta fasilitas ibadah. Sedangkan lingkungan non fisik misalnya rasa perkawanan diantara karyawan, hubungan antara karyawan dengan manajer, dan persaingan yang sehat. Lingkungan fisik yang baik akan mendukung peningkatan produktivitas.
b.          Kemampuan Manajemen. Kemampuan manajerial seorang pemimpin sangat berpengaruh terhadap produktivitas. Dalam hal ini pemimpin akan bertugas untuk mengarahkan kegiatan karyawan, sehingga mengarah ke pencapaian tujuan perusahaan. Dengan pemimpin yang efektif tujuan perusahaan lebih mudah tercapai.
c.          Kebijakan Perusahaan dalam Produktivitas. Adanya kebijakan perusahaan dalam bidang produktivitas akan menggerakan seluruh anggota perusahaan baik karyawan maupun manajer untuk berusaha mencapai produktivitas yang lebih tinggi.


3.         Variabel yang Berasal dari Lingkungan Eksternal, yang meliputi:
a.          Teknologi. Secara umum teknologi akan membantu meyelesaikan tugas-tugas dengan lebih cepat dan lebih banyak, selain itu dapat membantu meyelesaikan pekerjaan manusia dengan lebih baik.
b.          Kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah dapat berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap produktivitas. Kebijakan secara langsung meliputi kebijakan dalam bidang pendidikan dan latihan. Sedangkan kebijakan tidak langsung adalah kebijakan dalam bidang investasi, perizinan, dan fiskal.
c.          Kondisi ekonomi. Kondisi secara umum dapat mempengaruhi produktivitas. Kondisi krisis seperti yang terjadi pada tahun 1997-1999 berdampak pada penurunan produktivitas sehingga secara nasional produktivitas juga menurun.

Strategi untuk meningkatkan Produktivitas Kerja
            Pada dasarnya semua perusahaan menginginkan mempunyai produktivitas yang tinggi. Namun dalam kasus-kasus tertentu atau waktu-waktu tertentu perusahaan mandapati bahwa produktivitas perusahaannya relatif rendah. Menghadapi situasi seperti ini manajemen perusahaan akan mencari strategi untuk meningkatkan produktivitas.
            Menurut Randall yang dikutip oleh Sri Haryani (2002:109-114) mengemukakan bahwa ”Program yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas, dikelompokan menjadi tiga, yaitu yang menekankan pada desain ulang lingkungan kerja dan program yang memfokuskan pada peningkatan partisipasi karyawan, serta intervensi pemerintah dalam meningkatkan produktivitas”. Berikut adalah rangkuman mengenai penjelasan program peningkatan produktivitas:
1.         Desain ulang lingkungan kerja.
            Produktivitas banyak dipengaruhi oleh variabel-variabel yang berhubungan dengan lingkungan kerja. Oleh karena itu perusahaan harus menjamin bahwa pekerjaan didesain untuk memaksimumkan produktivitas. Beberapa strategi desain ulang lingkungan kerja adalah:
a.          Work site redesign (ergonomik), merupakan suatu kegiatan untuk mendesain pekerjaan dan peralatan sehingga sesuai dengan kemampuan fisik manusia.
b.          Robotik, penggunaan robot-robot di perusahaan dimaksudkan untuk menggantikan tenaga manusia. Keunggulan penggunaan robot yaitu menurunkan biaya tenaga kerja dan dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas.
c.          Otomasi pekerjaan kantor. Dengan otomatisasi pekerjaan kantor diharapkan tugas-tugas dapat segera diselesaikan, sehingga produktivitas meningkat.
d.          Mengubah desain pekerjaan  (job design). Pengubahan desain kerja dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas melalui peningkatan motivasi dan kepuasan karyawan. Disamping itu pengubahan desain kerja juga dimaksudkan untuk menghilangkan kejenuhan/kebosanan dalam bekerja. Pengubahan desain kerja dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu: rotasi kerja, pengkayaan pekerjaan, dan pemekaran pekerjaan.
e.          Pengaturan kerja alternatif. Pengaturan kerja alternatif yang paling populer adalah flextime, perusahaan memberikan kebebasan kepada karyawan dalam hal waktu masuk kerja dan waktu pulang kerja, namun tetap harus memenuhi jam kerja yang telah ditetapkan.
2.         Peningkatan partisipasi karyawan
            Peningkatan partisipasi karyawan dapat meningkatkan produktivitas melalui peningkatan motivasi dan kepuasan. Dengan meningkatnya motivasi dan kepuasan, maka karyawan akan lebih besar kesediaannya dalam mencapai tujuan perusahaan. Peningkatan partisipasi karyawan dilakukan dengan beberapa cara, seperti: dalam pengambilan keputusan, dalam mengidentifikasikan masalah, dan untuk memberikan saran-saran.
3.         Intervensi pemerintah
            Intervensi pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dilakukan dengan mengeluarkan kebijakan dan program-program, yaitu:
a.          Kebijakan, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam upaya meningkatkan produktivitas diantaranya adalah kebijkan pendidikan, anggaran dalam bidang pendidikan, investasi, dan perizinan.
b.          Program-program. Program pemerintah dalam upaya meningkatkan produktivitas adalah dengan mendirikan balai-balai latihan sperti: balai latihan kerja, Multi Media Training Centre, dan transmigrasi.
R. Bruce Mcafee dan William Poffenberger dalam bukunya Productivity Strategies Enchancing Employee Job Performance menyatakan bahwa strategi-strategi untuk meningkatkan produktivitas karyawan adalah sebagai berikut:
1.         Menggunakan penguatan dan pembentukan positif
Satu arah untuk memperbaiki kinerja karyawan yaitu dengan memberikan   penghargaan perilaku yang diinginkan tetapi bukan perilaku yang tidak menyenangkan. Kapan, bagaimana, dan seberapa sering seorang karyawan harus dihadiahi adalah satu bagian integral dari pendekatan ini.
2.         Menggunakan disiplin dan hukuman efektif
Pendekatan ini untuk meningkatkan produktivitas karyawan menekankan pentingnya mempunyai dan memanfaatkan prosedur kedisiplinan efektif. Bagaimana dan kapan untuk disiplin seorang karyawan agar benar-benar memperbaiki kinerjanya dan juga menghindari efek samping yang tidak diinginkan merupakan tujuan dari pendekatan ini.
3.         Memperlakukan orang-orang secara adil
Strategi ini untuk meningkatkan produktivitas karyawan merekomendasikan bahwa para manajer memperlakukan karyawan mereka secara adil atau meyakinkan karyawan mereka secara adil atau meyakinkan karyawan bahwa pada kenyataannya mereka menerima perlakuan yang adil. Apa yang dimaksud dengan memperlakukan secara adil merupakan komponen-komponen penting dari strategi ini.


4.         Memuaskan kebutuhan karyawan
Salah satu strategi penambahan produktivitas terbaik yang dikenal dan yang  paling tua untuk menentukan apa yang dibutuhkan karyawan adalah untuk membuat pemuasan kebutuhan tersedia. Pendekatan ini memerlukan satu pemahaman kebutuhan-kebutuhan dasar manusia dan cara orang-orang yang berbeda di dalam kekuatan kebutuhan-kebutuhan mereka.
5.         Mengatur pekerjaan yang berhubungan dengan sasaran
Pendekatan ini membantah bahwa menentukan mengukur sasaran sulit untuk karyawan atau membiarkan karyawan untuk membuat sasaran bagi diri mereka dapat mengakibatkan produktivitas karyawan lebih tinggi.
6.         Merestrukturisasi pekerjaan
Pendekatan ini merekomendasikan bahwa pekerjaan tersusun atau dirancang sedemikian rupa sehingga mereka meyediakan karyawan dengan rasa pemenuhan prestasi, dan tanggung jawab.
7.         Ganjaran berdasarkan kinerja
Seseorang penyelia yang menggunakan pendekatan ganjaran karyawan berdasarkan pada kualitas dan kuantitas pekerjaan mereka. Bagi bawahan, produktivitas yang lebih tinggi berarti semakin besar ganjaran. Para manajer yang menggunakan pendekatan ini menyadari bahwa senioritas dan pendidikan didalam  dirinya bukanlah ukuran-ukuran yang tepat sebagai dasar pemberian ganjaran.
Pada dasarnya upaya-upaya peningkatan produktivitas perusahaan harus dimulai dari produktivitas individu (karyawan) yang ada dalam perusahaan, sehingga manajemen industri yang ingin meningkatkan produktivitas individu (karyawan), sebelum memperhatikan produktivitas dari sumber-sumber daya lain seperti: material, energi, modal, mesin, peralatan, informasi, dan lain-lain.
            Vincent Gaspersz (2000:71) mengemukakan karakteristik umum dari individu atau karyawan yang produktif biasanya ditandai dengan beberapa hal berikut:
1.      Secara terus menerus selalu mencari berbagai gagasan dan cara penyelesaian tugas yang lebih baik.
2.      Selalu memberikan saran-saran untuk perbaikan secara sukarela
3.      Menggunakan waktu secara efekif dan efisien
4.      Selalu melakukan perencanaan dengan menyertakan jadwal waktu
5.      Selalu bersikap positif terhadap pekerjaannya
6.      Dapat berperan sebagai anggota tim kerja sama dengan baik, sebagimana juga menjadi pemimpin tim kerja sama dengan baik.
7.      Dapat memotovasi diri melalui dorongan dari dalam diri sendiri
8.      Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik terhadap pekerjaannya serta mau menerapkannya dalam pekerjaan itu.
9.      Mau menerima ide-ide atau saran-saran yang dianggap lebih baik dari orang lain.
10.    Hubungan antar pribadi dengan semua tingkatan manajemen dalam organisasi berlangsung baik.
11.    Sangat menyadari dan mempedulikan masalah pemborosan dan inefisiesnsi dalam penggunaan sumber-sumber daya.
12.    Mempunyai tingkat kehadiran yang baik
13.    Seringkali melampaui standar-standar yang telah ditetapkan
14.    Selalu mampu mempelajari Sesutu hal baru dengan cepat.

            Indikator produktivitas menurut Sedarmayanti (2001:79) yang dikembangkan dan dimodifikasi dari pemikiran yang disampaikan oleh Gilmore dan Erich Fromm tentang individu yang produktif, yaitu:
1.     Tindakan konstruktif.
2.     Percaya pada diri sendiri.
3.     Bertanggung Jawab.
4.     Mmemiliki rasa cinta terhadap pekerjaan.
5.     Mempunyai pandangan ke depan.
6.     Mampu mengatasi persoalan dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah-ubah.
7.     Mempunyai kontribusi positif terhadap lingkungannya (kreatif, imaginative, dan inovatif).
8.     Memiliki kekuatan untuk mewujudkan potensinya.

            Selanjutnya Sedarmayanti (2001:80) mengutip dari A. Dale Timpe mengungkapkan  tentang ciri umum pegawai yang produktif adalah sebagai berikut:
1.     Cerdas dan dapat belajar dengan cepat.
2.     Kompeten secara professional/teknis selalu memperdalam pengetahuan dalam bidangnya.
3.     Kreatif dan inovatif, memperlihatkan kecerdikan dan keanekaragaman.
4.     Memahami pekerjaan
5.     Belajar dengan cerdik, menggunakan logika, menggorganisasikan pekerjaan dengan efisien, tidak mudah macet dalam bekerja. Selalu mempertahankan kinerja rancangan, mutu, kehandalan, pemeliharaan keamanan, mudah dibuat, produktivitas, biaya, dan jadwal.
6. Selalu mencari perbaikan, tetapi tahu kapan harus berhenti menyempurnakan.
7.     Dianggap bernilai oleh pengawasnya.
8.     Memiliki catatan prestasi yang berhasil
 9.    Selalu meningkatkan diri.

4 komentar:

  1. selamat siang, apa boleh saya tahu judul buku yang digunakan? jika berkenan mohon kirim ke sebastian.denis14@gmail.com. Mohon maaf dan terima kasih. Salam.

    BalasHapus
  2. mohon minta daftar pustakanya dong .. kirim ke nuyzzz_aneh@yahoo.com terimakasih /..

    BalasHapus
  3. BISA MINTA TOOLLOONNGG BANGEDD
    INI MAKE BUKU APA YA ?
    :D

    BalasHapus
  4. permisi, artikel yg sangat bagus. jika berkenan, saya ingin minta referensinya. bisa dikirim ke email: al.hakim.114@gmail.com

    trimakasih...

    BalasHapus